Dalam waktu sebulan, tujuh gajah Sumatera (Elephas maximus sumatrae) di Riau menjadi korban pembantaian. Bukan saja gajah liar, gajah peliharaan pun menjadi sasaran. Korban terakhir, gajah jantan peliharaan PT Indah Kiat Pulp and Paper ditemukan mati, Jumat dua pekan lalu. Gadingnya sepanjang 1 meter hilang. Ini merupakan kasus ketiga selama tahun 2009.

Humas PT Indah Kiat, Nurulhuda, menjelaskan bahwa perusahaannya memelihara sembilan ekor gajah. Masing-masing memiliki pawang sendiri. Dan Tongli, gajah yang mati itu, adalah pemimpin gajah-gajah lainnya. Tongli yang berusia 30 tahun sudah 15 tahun berada dalam pemeliharaan PT Indah Kiat. "Kami kecolongan, Tongli terbunuh, kini tinggal delapan ekor teman Tongli yang akan dijaga lebih ketat oleh perusahaan," katanya.

Pembantaian gajah pertama kali terjadi pada 8 Mei silam, dengan ditemukannya dua bangkai gajah di Pusat Latihan Gajah Minas, Kabupaten Siak. Kepala hewan itu hancur karena rahangnya dipotong dengan kapak hingga terbelah. Pelaku mencabut gading yang ditemukan tidak jauh dari lokasi bangkai gajah itu. Diduga, pelaku tidak berani membawa keluar barang langka yang amat berharga itu karena hari telanjur siang.

Gading gajah di pasar gelap harganya sekitar Rp 25 juta per kilogram. Berat gading sepanjang 1 meter tak kurang dari 30 kilogram. Menurut Muslino, seorang pelatih gajah, pembunuh dua gajah itu diduga kuat adalah pemburu mahir.

Mereka mengetahui seluk-beluk gajah dan mengenal lokasi pusat pelatihan. Penggembalaan gajah berada jauh di tengah hutan dan tidak diketahui orang kebanyakan. "Selain itu, orang biasa tidak akan mudah mendekati gajah secara sembarangan. Mereka tampaknya sudah terlatih," katanya. Di pusat pelatihan terdapat tidak kurang dari 32 ekor gajah.

Selain peristiwa itu, empat ekor gajah hangus terbakar di kawasan konsesi PT Rimba Peranap Indah, anak perusahaan PT Riau Andalan Pulp and Paper. Lokasi ini berdekatan dengan kawasan Taman Nasional Tesso Nilo. Dua gajah jantan dewasa berusia 20 tahun dan dua gajah betina berusia 20 tahun, serta anaknya yang berumur lima tahun, mati karena konflik dengan manusia. Gajah-gajah itu kerap memakan dan menghancurkan tanaman sawit milik warga.

Maka, sawit-sawit sepanjang satu kilometer pun dilumuri racun babi. Syahimin, Kepala Teknis Balai Konservasi Sumber Daya Alam Riau, mengatakan bahwa matinya dua gajah di pusat latihan dan empat gajah liar di hutan konsesi PT Rimba Peranap itu diduga karena racun. "Secara kasatmata, penyebab kematian itu adalah diracun. Tapi memang kami masih menunggu hasil valid dari laboratorium Bukittinggi," katanya. Menurut Syahimin, ini kejadian luar biasa karena dalam waktu kurang dari dua bulan, tujuh ekor gajah mati dibunuh di Riau.

Syamsidar, juru bicara WWF Riau, menyayangkan kasus kematian gajah di Riau itu. Sedangkan matinya Tongli dan gajah di pusat pelatihan tadi terjadi karena pembunuh ingin mengambil gadingnya, dan terbunuhnya empat ekor gajah liar di hutan konsesi Rimba Peranap justru karena konflik dengan manusia. Menurut Syamsidar, lokasi itu merupakan wilayah jelajah gajah untuk menuju Taman Nasional Tesso Nilo. Ada enam titik jelajah gajah, dan salah satunya berada di hutan konsesi Rimba Peranap.

"Wilayah jelajah gajah itu sudah beralih fungsi menjadi kawasan hutan tanaman industri. Kebun sawit seluas 800 hektare menjadi milik warga binaan koperasi PTPN V. Masyarakat petani sawit tidak memberi ruang kepada gajah untuk bisa berlalu lalang ke habitatnya di Taman Nasional Tesso Nilo," Syamsidar menguraikan. Empat ekor gajah yang mati itu merupakan anggota sekitar 70 ekor gajah di taman nasional tersebut.

Syamsidar menyayangkan lambatnya pengusutan kasus pembunuhan gajah-gajah itu. Polisi baru sampai tahap pemeriksaan saksi-saksi dari Balai Konservasi dan WWF. Belum ada yang jadi tersangka. Ke depan, gajah-gajah yang melintas di area sawit amat rawan tertimpa kasus yang sama. "Habitat gajah sudah terganggu, akibatnya amat rawan berkonflik dengan manusia, dan akhirnya kami khawatir gajah-gajah itu dibunuh," katanya.

Saat ini, WWF hanya bisa melakukan antisipasi dengan membentuk tim pengusiran gajah liar kembali ke habitatnya di taman nasional. Juga memberikan penyuluhan kepada masyarakat bagaimana menangani gajah-gajah liar ketika mengganggu perkebunan mereka. "Kami tunjukkan cara mengusir gajah dengan membuat meriam dari paralon yang menyebabkan bunyi keras," tuturnya. Bukan dengan melemparkan api ke gajah-gajah itu.

WWF juga meminta masyarakat kembali memberi jalan untuk lintasan gajah. "Tidak semuanya dijadikan sebagai perkebunan sawit," katanya. Syamsidar menduga, gajah-gajah yang mati di kawasan hutan tanaman industri Rimba Peranap makan sawit masyarakat yang diolesi racun. "Jadi, habitat gajah bukan di lahan konsesi Rimba Peranap, melainkan di taman nasional. Kawasan itu hanya lintasan gajah keluar-masuk habitatnya," ujarnya.

Broto, Humas Rimba Peranap, membenarkan bahwa areal konsesinya merupakan lintasan gajah. "Banyak ditemukan kotoran gajah," katanya. Namun, menurut dia, selama ini hutan tanaman industri perusahaannya tidak terganggu. Hanya saja, kebun sawit yang lokasinya berdekatan dengan daerah konsesinya kerap diganggu gajah, karena gajah-gajah itu memakan batang-batang sawit.

Broto mengakui, sebetulnya ladang sawit seluas 800 hektare itu masuk kawasan konsesi Rimba Peranap. Tapi, entah bagaimana awalnya, sekarang menjadi ladang sawit masyarakat. Menurut Broto, tidak mungkin gajah mengganggu masyarakat, karena kebun sawit itu berjarak 40 kilometer lebih dari perkampungan warga. "Bahkan lokasi gajah yang mati itu sangat jauh dari perkampungan penduduk. Jadi, gajah tidak mengganggu warga, tapi memakan sawit warga," tuturnya.

Kini kasus matinya gajah-gajah itu ditangani dua polsek. Gajah yang mati di kawasan konsesi rimba Peranap ditangani Polsek Ukui, Kabupaten Pelalawan. Sedangkan gajah yang mati di kawasan pusat latihan ditangani Polsek Minas, Kabupaten Siak. Menurut Kapolsek Ukui, Ajun Komisaris Polisi (AKP) Edi Munawar, pihaknya belum bisa menangkap tersangka, karena belum ada hasil otopsi dan uji laboratorium yang pasti dari Balai Konservasi Riau.

"Kami sudah memeriksa tiga saksi dari Rimba Peranap dan lima saksi dari Balai Konservasi. Tapi belum ada tindakan lebih lanjut, karena belum ada hasil otopsi gajah dan lab atas pelepah dan batang sawit yang diduga diolesi racun," katanya.

Sedangkan Kapolsek Minas, AKP Sugeng, yang menangani kematian Tongli dan dua gajah di pusat latihan, menyatakan bahwa kasus ini masih dalam tahap penyelidikan. Baru satu saksi yang dimintai keterangan. Polisi baru akan meminta keterangan dari karyawan dan pawang yang bertugas serta menunggu hasil uji lab dan otopsi bangkai gajah.

Rohmat Haryadi, dan Luzi Diamanda (Pekanbaru)
[Lingkungan, Gatra Nomor 33 Beredar Kamis, 25 Juni 2009]

2 komentar

  1. yanmaneee Said,

    Posted on 17 November 2019 pukul 23.51

     
  2. Gading gajah di pasar gelap harganya sekitar Rp 25 juta per kilogram. Berat gading sepanjang 1 meter tak kurang dari 30 kilogram. Menurut Muslino, seorang pelatih gajah, pembunuh dua gajah itu diduga kuat adalah pemburu mahir.

    wholesale salwar suit online ,
    salwar suits wholesaler ,

    Posted on 17 Januari 2022 pukul 17.38

     

Film Terbaru

Post Terbaru

      Admin Control Panel

      New Post | Settings | Change Layout | Edit HTML | Moderate Comments | Sign Out

      Tag Cloud

      Dukung