Featured, On Site

Gajah Sumatera, Nasibmu Kini

Keinginan saya untuk kembali lagi ke lokasi penelitianku untuk tugas akhir saat itu akhirnya bisa terwujudkan. Pusat Konservasi Gajah Seblat, yang terletak di sebelah Utara Provinsi Bengkulu ini saya kunjungi pertama kali pada tahun 2004. Gilakan? setelah dua puluh tahun lebih saya lahir di Bengkulu, baru tahun 2004 saya datang kesana. [Selengkapnya]

On Site

Pusat Konservasi Gajah Seblat

Pada tahun 1995 melalui SK Menhut No. 658/Kpts-II/1995 kawasan yang luasnya hanya 6.865 ha ini ditetapkan sebagai Hutan Poduksi dengan fungsi khusus. Khusus karena didalamnya ada habitat gajah dan kawasan ini ingin dijadikan tempat pelatihan gajah. Keputusan ini dikeluarkan karena pada tahun 1988 konflik antara manusia dan dan gajah mulai terjadi di Provinsi Bengkulu. [Selengkapnya]

Featured, On Site

Seandainya tidak ada gajah di dunia ini knapa?

Pertanyaan tersebut keluar disaat kita berdiskusi panjang dan berdebat bagaimana caranya menyelamatkan habitat gajah di Bengkulu. Karena sudah mentok dan kompleks permasalahan yang ada di PKG Seblat, dengan putus asa karena tidak menemukan jalan keluarnya seorang teman mengeluarkan pertanyaan itu. "Apa yang terjadi jika tidak ada gajah di dunia? tidak ada ada bencana bukan?". Semua orang langsung diam dan tidak bisa menemukan jawabannya. Karena semua bingung, akhir aku menyeletuk "ya.. setiap yang namanya makhluk Tuhan itu punya hak untuk hidup dan punya tempat tinggal". Apakah ada jawaban lain selain jawabanku?? [Selengkapnya]

Featured, On Site

Siapa yang Salah??

Cerita berikut ini adalah sebuah cerita seorang petani sawit yang saya temui beberapa bulan yang lalu (Desember 2008) yang tinggal di perbatasan Pusat Latihan Gajah (PLG), Seblat, Bengkulu Utara. Saya menginap di pondok beliau selama lima hari. Disebuah podok yang sangat sederhana yang terbuat dari papan-papan bekas dan bambu. Berdirinya pondok inipun sudah tidak lurus lagi alias hampir roboh karena dimakan usia. [Selengkapnya]

Sensasi Alam Liar di Seblat


Pengunjung menaiki gajah sumatera melintasi Sungai Seblat di Pusat Latihan Gajah (PLG) Seblat, Kecamatan Putri Hijau, Kabupaten Bengkulu Utara, Bengkulu, Minggu (15/7). Habitat asli gajah sumatera itu berpotensi dikembangkan sebagai tujuan ekowisata di Bengkulu. (Kompas/Adhitya Ramadhan)
Ingin masuk hutan dan menyeberangi sungai sambil menunggang gajah sumatera yang hampir punah? Atau, tinggal di rumah kayu di tengah hutan? Taman Wisata Alam Seblat dapat menyuguhkan itu semua.

Di Kecamatan Putri Hijau, Kabupaten Bengkulu Utara, Bengkulu, Taman Wisata Alam (TWA) Seblat seluas 7.000 hektar adalah rumah bagi sekitar 100 ekor gajah sumatera, harimau sumatera, beruang madu, tapir, burung rangkong, dan jenis fauna lain. Kawasan di bawah pengelolaan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu itu menjadi habitat asli bunga terbesar di dunia, endemis Sumatera, Rafflesia arnoldii.

 TWA Seblat berfungsi sebagai Pusat Latihan Gajah (PLG) pula. Kini, 19 gajah sumatera dibina di taman ini. Kantong populasi terakhir gajah sumatera di Bengkulu itu lebih dikenal dengan nama PLG Seblat, sebab penunjukannya sebagai TWA belum berjalan setahun. 

PLG Seblat bisa dicapai dari Kota Bengkulu, paling lama lima jam melalui jalan lintas barat Sumatera ke arah utara. Permukiman warga dan hamparan kebun kelapa sawit akan menyambut kita sebelum sampai di tepi Sungai Seblat. Di seberang sungai itulah kamp PLG Seblat berada. Menyeberangi Sungai Seblat selebar sekitar 30 meter memakai perahu kayu atau menaiki gajah akan menguji keberanian kita. 

Interaksi dengan gajah 

Daya tarik utama PLG Seblat ialah interaksi dengan gajah sumatera binaan. Kita bisa menjalani aktivitas seharian bersama mahout atau pawang gajah, mulai dari memandikan, memberi makan, hingga membawa gajah masuk hutan untuk mencari makan. 

Saat liburan, suasana PLG Seblat meriah. Habitat gajah ini menjadi daerah tujuan wisata warga di sekitar Kecamatan Putri Hijau. Pengunjung juga bisa menyusuri sungai menggunakan perahu nelayan yang didatangkan dari muara Sungai Seblat. Namun, selama ini pengunjung TWA Seblat masih didominasi oleh relawan, mahasiswa, dokter hewan, atau rombongan anak sekolah di sekitar kawasan itu. Juga lebih banyak warga negara asing yang berkunjung dibandingkan dengan turis domestik.

Seorang relawan untuk anak gajah sumatera asal Australia, Amanda French, mengatakan, tidak seperti obyek wisata yang menyuguhkan alam dan satwa liar sebagai atraksi utama, di PLG Seblat wisatawan dapat berinteraksi langsung dengan satwa liar tanpa batasan, mulai dari pagi hingga malam. ”Tengah malam begitu penerangan dari genset dimatikan, semuanya jadi gelap gulita. Hanya suara satwa dalam hutan yang menemani,” paparnya. 

Koordinator PLG Seblat, Ernie Suyanti Musabine, menambahkan, saat ini pihaknya masih merintis pengembangan taman itu sebagai tujuan ekoturisme. Karena itu, secara bertahap kamp di PLG Seblat diperbaiki agar lebih nyaman ditinggali oleh pengunjung. Promosi pun dilakukan tidak hanya kepada publik dalam negeri, tetapi juga luar negeri. 

Menurut Suyanti, PLG Seblat tak menawarkan pertunjukan binatang, melainkan pemanfaatan gajah jinak untuk wisata. Wisatawan juga tidak hanya menikmati sensasi alam sumatera, tetapi juga mendapatkan edukasi seputar hutan dan keanekaragaman hayati di kawasan itu. Ke depan, wisatawan yang datang juga bisa menikmati seni budaya dan keramahtamahan warga setempat. Wisatawan pun bisa tinggal di rumah warga. 

Relawan asing pun kini membantu mengembangkan PLG Seblat sebagai daerah tujuan ekowisata. Relawan asal Australia, Bruce Levick, ialah yang membangun laman kebun binatang Australia dan sekarang membuatkan laman khusus utuk PLG Seblat. Melalui laman itu, warga juga bisa menjadi orangtua angkat bagi gajah binaannya dengan memberikan donasi bagi pengembangan PLG. (Adhitya Ramadhan)

Dokter Hewan dari Belantara Bengkulu


Dokter hewan yang bertugas mengobati binatang peliharaan memang sudah sewajarnya. Akan tetapi, menjadi dokter hewan khusus untuk satwa liar yang kapan pun harus siap masuk ke rimba belantara demi menyelamatkan seekor binatang buas, tak semua orang mau dan mampu melakukannya.

Namun, menyelamatkan dan mengobati satwa liar itulah yang selama ini justru dilakukan Erni Suyanti Musabine. Lewat sentuhan tangan Yanti, panggilannya, banyak nyawa satwa liar terselamatkan. Satwa liar yang terluka ataupun sakit dirawatnya hingga bisa kembali ke alam bebas.

Yanti adalah dokter hewan yang bertugas di Balai Konservasi Sumber Daya Alam Bengkulu. Selama ini, lajang berusia 37 tahun itu hampir selalu berada di balik upaya penyelamatan satwa liar di Sumatera bagian selatan, terutama Bengkulu. 

Sudah tidak terhitung lagi berapa banyak harimau, gajah, orangutan, dan beruang yang diselamatkannya selama kurun waktu delapan tahun terakhir. 

Tugas itulah yang membuat Yanti harus berada di hutan. Dia bahkan bisa selama berbulan-bulan hidup di hutan. Pekerjaan itu telah membuatnya tak merasa harus risau meski dirinyalah satu-satunya perempuan di antara para pria di hutan itu. Yanti pun tidak ragu untuk ikut berpatroli gajah, masuk ke hutan selama berhari-hari. 

Selain harus menaklukkan rimba belantara saat hendak menyelamatkan nyawa satwa liar, Yanti juga harus menghadapi keterbatasan fasilitas medis yang ada. Hambatan itu masih belum cukup. Dia juga harus menghadapi risiko lain, yakni keselamatan dirinya terancam ketika harus berhadapan dengan satwa liar di hutan. 

Beban tanggung jawab yang dipikul Yanti bisa dibilang berat. Sebab, dalam setiap upaya penyelamatan satwa liar, tidak hanya nyawa hewan itu sendiri yang harus dia selamatkan, tetapi dia pun bertanggung jawab atas nyawa para petugas penyelamatan yang berada di bawah kendalinya. 

Beratnya tugas itulah yang menyebabkan hanya segelintir mahasiswa kedokteran hewan teman kuliah Yanti yang kemudian bersedia menjadi dokter hewan khusus satwa liar. 

Pengalaman menarik 

Namun, bagi Yanti, berupaya menyelamatkan nyawa satwa liar merupakan tantangan. Ada saja pengalaman menarik saat dia berusaha menyelamatkan nyawa satwa liar di tengah hutan. 

Yanti bercerita, suatu ketika di Ketahun, Bengkulu Utara, dalam waktu relatif singkat, dia harus menyuntikkan obat bius ke tubuh harimau yang lepas dari jerat pemburu, tanpa alat bantu apa pun.

”Saat itu, sebagian petugas justru panik karena harimau yang terjerat itu hampir bisa melepaskan diri. Di bawah guyuran hujan, saya terpaksa mengendap-endap dari belakang harimau itu supaya bisa secepat mungkin menyuntikkan obat bius langsung ke tubuhnya sebelum dia (harimau) berbalik badan,” tutur Yanti. 

Ada pula peristiwa yang menegangkan sekaligus menggelikan. Ketika itu, Yanti tengah berusaha menyelamatkan nyawa seekor gajah liar yang terperosok ke dalam lubang bekas galian batubara. Setelah petugas berhasil mengeluarkan gajah tersebut dari lubang galian, si gajah justru berusaha menyerang dan mengejar tim penyelamatnya, termasuk Yanti. 

Namun, di antara sekian banyak upaya penyelamatan nyawa satwa liar, kisah penyelamatan Dara, seekor harimau sumatera di Bengkulu, dan seekor orangutan di Jambi-lah yang menyisakan kesan mendalam bagi Yanti. 

Ia bercerita, saat penyelamatan Dara, dia harus melalui medan yang berat. Ia berkendara selama sehari penuh, dilanjutkan berjalan kaki di hutan selama dua hari. Itulah waktu yang dibutuhkan Yanti untuk mencapai lokasi terjeratnya Dara di hutan produksi Air Rami, Bengkulu Utara. 

Sementara di Jambi, dia harus berupaya mengambil dan mengobati orangutan yang tertembak dan ditahan masyarakat desa di sekitar hutan. ”Di sini, yang harus kami hadapi bukan hanya hewannya, melainkan juga warga setempat,” ujarnya. 

Hubungan emosional 

Bagi Yanti, satwa liar bukan sekadar hewan di hutan. Hubungan emosional antara dia dan satwa liar seakan bersaudara. Jika ada satwa liar yang terluka, bahkan mati terkena jerat pemburu, Yanti merasa amat bersedih. 

”Satwa liar itu sudah menjadi bagian dari hidup saya. Satwa liar pada hakikatnya amat bergantung pada manusia,” katanya. 

Lahir dari keluarga pencinta hewan dan konservasi alam, Yanti yang hobi panjat tebing itu tak asing dengan konservasi satwa liar. Ketika masih di bangku kuliah, ia aktif dalam kelompok pencinta alam Wanala Unair (Universitas Airlangga) dan Profauna. Inklinasi Yanti pada konservasi satwa liar pun terus berlanjut. 

Menjadi dokter hewan diakuinya bukan pilihan pertama saat memilih bangku kuliah. Semula, anak ketiga dari empat bersaudara itu berharap kuliah pada jurusan arsitektur. Oleh karena itulah, pada awal masa kuliah, Yanti tak punya bayangan hendak bekerja di mana selepas kuliah. 

Namun, setelah mendapat mata kuliah yang berkaitan dengan konservasi satwa liar, Yanti mulai menikmati bidang kedokteran hewan. Bahkan, perempuan yang pernah menjuarai lomba dayung perahu naga di Jawa Timur itu ingin memperdalam ilmu bidang kedokteran hewan khusus satwa liar.

Yanti juga berharap suatu hari nanti ada klinik pengobatan satwa liar yang memadai di Bengkulu, mengingat tingginya kasus kematian satwa liar akibat perburuan dan konflik tata ruang. 

”Ada banyak tumpang tindih kepentingan di kawasan hutan. Izin pertambangan dan perkebunan di sekitar, bahkan di dalam kawasan hutan, menjadi ancaman serius bagi satwa liar,” katanya prihatin. 

Di tengah karut-marut manajemen pengelolaan kehutanan negeri ini, sekuat tenaga Yanti berusaha konsisten melakukan tugas menyelamatkan nyawa satwa liar di habitatnya. Jejaring pada tingkat nasional dan internasional pun ia bangun untuk menghimpun dukungan upaya konservasi satwa liar.(Adhitya Ramadhan)

Pusat Latihan Gajah Seblat Terancam untuk Tambang

Jakarta, Kompas - Kementerian Kehutanan mengkaji usulan mengonversi 540 hektar kawasan konservasi Pusat Latihan Gajah Seblat, Bengkulu, sebagai lahan tambang. Mereka menjanjikan kajian menyeluruh.

Seperti diberitakan, area yang akan diturunkan statusnya menjadi hutan produksi itu merupakan jalur lalu lalang gajah. Konversi bisa mengancam keberadaan puluhan gajah sumatera dan harimau sumatera.

”Kajian belum selesai,” ujar Darori, Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Kementerian Kehutanan, Senin (27/8), di Jakarta. Kajian tim Kemenhut akan memaparkan fakta dan dampak lengkap konversi kawasan konservasi itu.

 ”Kalau dari sisi ekonomi, pasti membawa peningkatan pendapatan. Bagaimana dampak sosial serta kelestarian fauna dan satwanya? Untuk itu, perlu kajian lengkap,” kata Darori. 

Meski masih dikaji, rencana konversi sebagian Pusat Latihan Gajah (PLG) Seblat itu meresahkan. Alih fungsi sebagian lahan PLG jadi hutan produksi diprediksi meningkatkan konflik antara fauna liar dan masyarakat. 

Anang Widyatmoko dari Elephant Care Community Bengkulu mendesak Kemenhut tak menerbitkan surat perubahan peruntukan hutan. Ia menyebut, 750 hektar dari total 6.805 hektar PLG Seblat akan digunakan sebagai lahan tambang dan kelapa sawit. 

”Sekeliling PLG ini perkebunan sawit, ada parit-parit pemisah (tak bisa dilalui gajah). Kalau hutan dikurangi, gajah bisa menyerang permukiman sekitar. Mengkhawatirkan,” ujarnya.

Picu konflik 

Seekor gajah butuh area sekitar 7 hektar untuk memenuhi kebutuhan pakan dan berlalu lalang. Pengurangan kawasan hutan hanya akan memicu konflik gajah dan manusia seperti tahun 2011. Saat itu, tujuh gajah mati diracun di sekitar PLG Seblat.

Selain di kawasan konservasi, sebagian habitat gajah juga di hutan produksi, hutan produksi terbatas, dan area peruntukan lain yang rentan dialihfungsikan pemerintah. Tak sedikit habitat gajah yang dirambah dan menjadi lahan hak guna usaha (HGU) untuk perkebunan kelapa sawit atau kebun masyarakat.

Ia menunjukkan, koridor antara PLG dan Taman Nasional Kerinci Seblat telah terputus. ”Di sana terbit HGU untuk transmigrasi. Koridor amat penting bagi ekologi satwa, tapi hilang dengan alasan kebutuhan manusia,” ungkapnya.

Analisis menunjukkan, deposit batubara di kawasan PLG Seblat dan sekitarnya, lebih kurang 20 juta ton, adalah salah satu yang terbesar di Bengkulu. Hal ini mengundang perusahaan beramai-ramai melakukan eksploitasi. (ICH)

BKSDA Bengkulu kembangkan potensi ekowisata

Bengkulu (ANTARA News) - Balai Konservasi Sumber Daya Alam Bengkulu mengembangkan potensi Taman Wisata Alam Pusat Konservasi Gajah Seblat Kabupaten Bengkulu sebagai salah satu kawasan ekowisata karena memiliki habitat Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatrae), Harimau Sumatera (Phantera tigris sumatrae) dan bunga Rafflesia (Rafflesia arnoldii).

"Tahun ini ada kegiatan pemugaran `rung` atau tempat melatih gajah dan perbaikan sejumlah tempat penginapan untuk mendukung PKG Seblat sebagai salah satu tujuan ekowisata," kata Koordinator PKG Seblat, Erni Suyanti Musabine di Bengkulu, Senin. Ia mengatakan kawasan seluas lebih 7.000 hektar itu memiliki potensi sumberdaya alam keanekaragaman flora fauna yang tinggi, bentang alam yang indah dari sebagian ekosistem asli hutan hujan dataran rendah yang masih tersisa di Provinsi Bengkulu. "Kami sedang membenahi internal, termasuk menyediakan informasi selengkap-lengkapnya tentang kawasan ini dan akan menjalin kerjasama dengan biro perjalanan wisata," tambahnya. 

Potensi TWA PKG Seblat sebagai obyek wisata alam diharapkan akan mengubah persepsi masyarakat yang menganggap keberadaan hutan sebagai penghalang pembangunan. Sejumlah penelitian tentang hasil identifikasi kekayaan jenis flora dan fauna, lanskap dan obyek wisata lainnya sebagai potensi atraksi wisata pada jalur patroli hutan yang terpilih untuk jalur wisata. 

Sebelumnya Asosiasi Biro Perjalanan dan Wisata Indonesia (ASITA) Provinsi Bengkulu memilih potensi ekowisata di antaranya PKG Seblat sebagai habitat gajah sumatra untuk dikenalkan dalam promosi wisata di Jerman, selain keunikan flora rafflesia arnoldii. "Kami memilih habitat flora dan fauna langka dunia yang masih dapat ditemui di hutan tropis Sumatra, yakni habitat gajah dan bunga rafflesia," kata Ketua ASITA Provinsi Bengkulu Kurnia Lesandri Adnan. 

Ia mengatakan kawasan PKG Seblat juga terhubung langsung dengan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) yang saat ini belum tersentuh. "Tapi perlu pemetaan pola perjalanan wisata yang disesuaikan dengan masa mekarnya bunga langka itu, sehingga tidak mengecewakan wisatawan," katanya. (ANTARA) 

Editor: Ella Syafputri COPYRIGHT © 2012

Habitat satwa langka Bengkulu terancam eksplorasi batu bara

Bengkulu (ANTARA News) - Sejumlah kawasan hutan yang menjadi habitat satwa langka di Provinsi Bengkulu semakin kritis akibat perambahan liar dan rencana pembukaan kegiatan pertambangan batu bara. Salah satu kawasan yang semakin terancam adalah Taman Wisata Alam (TWA) Pusat Konservasi Gajah (PKG) di Seblat, Kabupaten Bengkulu Utara.

Kawasan yang menjadi habitat puluhan gajah liar dan satwa langka lainnya yakni harimau Sumatra (Phantera Tigris Sumatrae) dan beruang madu (Helarctos Malayanus) terus dihantui perambah dan incaran para pemodal untuk mengeruk potensi batu bara.

 Koordinator PKG Seblat Erni Suyanti Musabine mengatakan hingga saat ini terdapat lebih dari empat permintaan izin untuk melakukan eksplorasi batu bara di dalam kawasan seluas lebih 7.000 hektare itu. "Permohonan untuk melakukan eksplorasi batu bara terus berdatangan, padahal PKG Seblat baru dinaikkan statusnya menjadi taman wisata alam," katanya di Bengkulu, Selasa. 

Sebelumnya kata dia, PKG Seblat berstatus Hutan Produksi Terbatas dengan fungsi khusus. Melalui keputusan Menteri Kehutanan nomor SK.643/Menhut-II/2011 tentang Perubahan Peruntukan Kawasan Hutan Menjadi Bukan Kawasan Hutan Seluas 2.192 hektare, Perubahan Antarfungsi Kawasan Hutan Seluas 31.013 hektare, dan Penunjukkan Bukan Kawasan Hutan Menjadi Kawasan Hutan seluas 101 hektare di Provinsi Bengkulu yang dirilis pada 10 November 2011, PKG Seblat berubah menjadi TWA. Kemudian, seluas lebih 500 hektare berubah menjadi kawasan hutan yang dapat dikonversi. 

"Ini yang mengkhawatirkan karena kawasan seluas 500 hektare itu merupakan habitat gajah liar dan satwa langka lainnya," katanya. Selain menjadi habitat 19 ekor gajah binaan BKSDA, sebanyak 80 ekor populasi gajah liar diperkirakan masih terdapat di dalam kawasan hutan itu. Ia mengatakan kawasan seluas lebih 7.000 hektare itu memiliki potensi sumberdaya alam keanekaragaman flora fauna yang tinggi, bentang alam yang indah dari sebagian ekosistem asli hutan hujan dataran rendah yang masih tersisa di Provinsi Bengkulu. 

Sejumlah penelitian tentang hasil identifikasi kekayaan jenis flora dan fauna, lanskap dan obyek wisata lainnya sebagai potensi atraksi wisata pada jalur patroli hutan yang terpilih untuk jalur wisata. Anggota Dewan Daerah Walhi Bengkulu, Barlian mengatakan tingginya konflik satwa di Provinsi Bengkulu tidak lain akibat alih fungsi kawasan hutan, terutama menjadi lahan perkebunan dan pertambangan. 

"Seperti PKG Seblat yang merupakan benteng terakhir dari habitat satwa liar di Bengkulu tetapi terus diincar untuk pertambangan," katanya. Ia juga mempertanyakan keputusan Menteri Kehutanan yang melepaskan 500 hektare kawasan PKG Seblat dan menurunkan fungsinya menjadi kawasan hutan yang dapat dikonversi. "Ini akal-akalan karena hasil penelusuran kami di lapangan, kawasan seluas 500 hektare itu justru merupakan tempat hidup gajah liar dan satwa langka lainnya," katanya. 

Menurutnya, pertambangan batu bara di sekitar PKG Seblat, apalagi di dalam kawasan hutan itu akan menghancurkan habitat satwa langka dilindungi, terutama gajah liar Sumatra yang baru saja dinaikkan statusnya menjadi terancam punah (critically endangered). 

(ANT) Editor: B Kunto Wibisono COPYRIGHT © 2012

Perlindungan Gajah Minim

Bengkulu, Kompas - Sebagian besar gajah sumatera liar di Bengkulu selama ini berada di luar kawasan konservasi yang sangat rentan gangguan. Ironisnya, perlindungan terhadap kawanan gajah pun minim sehingga konflik manusia dengan gajah serta kasus kematian gajah kerap terjadi.

Data yang diperoleh Kompas, sampai Jumat (25/5) tak ada gajah yang dilaporkan mati pada tahun ini. Namun, selama tahun 2011, tujuh gajah dilaporkan mati karena diracun di sekitar areal Pusat Latihan Gajah (PLG) Seblat, Bengkulu Utara.

Menurut Koordinator PLG Seblat Erni Suyanti Musabine, ancaman utama pada keberadaan gajah adalah habitatnya yang kian menyempit. Hutan habitat gajah sudah tumpang tindih dengan kepentingan manusia.

Suyanti mengatakan, selain di kawasan konservasi, sebagian habitat gajah justru di hutan produksi, hutan produksi terbatas, dan area peruntukan lain yang rentan dialihfungsikan oleh pemerintah. Tak sedikit habitat gajah yang kini dirambah dan menjadi lahan hak guna usaha (HGU) untuk perkebunan kelapa sawit atau kebun masyarakat.

Sikap warga pun terbelah. Ada yang menilai konservasi gajah itu penting, tetapi sebagian lainnya menganggap gajah sebagai hama. Pemerintah daerah, kata Suyanti, tidak memberikan perhatian pada konservasi mamalia besar ini.

International Union for Conservation of Nature (IUCN) pun menaikkan status gajah di Indonesia menjadi sangat rentan punah, sama dengan harimau sumatera. Hal ini harus menjadi peringatan tak hanya bagi pemerintah, tetapi juga berbagai pemangku kepentingan di bidang lingkungan. ”Penyelamatan gajah sumatera harus menjadi prioritas,” kata Suyanti.

Konflik gajah dengan manusia di Bengkulu cenderung meningkat pula. Puncaknya tahun lalu ketika tujuh ekor gajah mati.

Ketua Forum Konservasi Gajah (FKG) Sumatera Wahdi Azmi menambahkan, sesuai perkiraan tahun 2007, populasi gajah sumatera sekitar 2.400-2.800 ekor. Jumlah ini terus menyusut bila kerusakan hutan tak dicegah. Data FKG menunjukkan, dalam lima tahun terakhir 44 gajah mati dan 12 warga tewas dalam konflik antara gajah dan manusia.

Suyanti menegaskan, gajah sebagai mamalia besar memerlukan habitat yang luas. Penyelamatan gajah sama artinya dengan melindungi semua satwa dan tumbuhan di habitat itu. Dari Jambi dilaporkan, pengelolaan Bukit Tapanggang oleh Komunitas Adat Guguk di Renah Pembarap, Kabupaten Merangin, berhasil melindungi keberadaan satwa liar endemik yang dilindungi. Hutan seluas 690 hektar itu menjadi habitat harimau sumatera, beruang madu, kucing batu, tapir, kijang muncak, dan kuaw raja.

Warsi dari Tim Konservasi Zoological Society of London dan Komunitas Konservasi Indonesia menjelaskan, masih mendapati harimau sumatera, sebagai satwa liar endemik dan binatang lain di Bukit Tapanggang. (ITA/ADH)

Sumber: http://cetak.kompas.com/read/2012/05/26/0601487/perlindungan.gajah.minim

Film Terbaru

Post Terbaru

      Admin Control Panel

      New Post | Settings | Change Layout | Edit HTML | Moderate Comments | Sign Out

      Tag Cloud

      Dukung