Gajah Sumatra Terancam Punah

Oleh Pratama On 10.29

Rabu, 24 Juni 2009 18:38 WIB

>BENGKULU--MI: Habitat gajah Sumatra (Elephas maximus sumatrensis) di Bengkulu terancam punah akibat perambahan liar yang dilakukan lebih kurang 500 KK di koridor lintasan gajah Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) dan Pusat Latihan Gajah (PLG) Seblat.

"Jika perambahan dan penebangan liar tersebut tidak segera dihentikan di kawasan itu habitat satwa liar dilindungi itu akan punah," Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu, Andi Basrul melalui Koordinator PLG Seblat, Aswin Bangun, Rabu.

Saat ini kawasan Hutan Produksi (HP) Lebong Tandai II dan Hutan Produksi Terbatas (HPT) Lebong Kandis I sudah amat kritis akibat ulah para perambah itu.

Menurut Aswin, hampir 85 persen dari jumlah gajah Sumatra di Bengkulu berada di luar TNKS dan PLG, meski sulit memprediksi jumlah gajah liar tersebut, karena berkelompok atau dalam satu kelompok mencapai 30 hingga 50 ekor.

Perambahan liar itu muncul ketika pemerintah daerah mengeluarkan 200 sertifikat hak guna usaha (HGU) pada 2000 lalu di HP Lebong Kandis II.

Selain melakukan perambahan besar-besaran, hutan yang sudah gundul ditanami dengan kelapa sawit dan tanaman palawija.

Perambahan liar itu hingga kini terus berlanjut, karena pemerintah kabupaten dan provinsi belum melakukan penertiban.

Pada Agustus 2007 lalu pernah petugas Pemprov Bengkulu datang ke lokasi tersebut, namun hanya sekedar melihat tanpa melakukan tindakan penertiban.

Maraknya perambahan liar tersebut juga terbukti masih ditemukannya sekitar 4-5 rakit bermuatan kayu gelondongan selalu keluar setiap hari melalui Sungai Seblat.

"Satu rakit bermuatan kayu mencapai empat meter kubik. Coba bayangkan jika lima rakit berarti 20 meter kubik kayu setiap hari keluar dari hutan lindung tersebut," ujarnya.

Oleh karena itu, dia meminta kepada aparat menertibkan perambahan dan pembalakan liar tersebut, sehingga hutan tidak punah dan habitat gajah dapat diselamatkan.

"Percuma saja BKSDA selalu melakukan penyelamatan gajah Sumatra, jika habitatnya sudah tidak ada lagi," katanya.

Dia mengatakan, jalan poros menuju perusahaan perkebunan kelapa sawit PT Alno di kawasan itu cukup berpengaruh terhadap habitat gajah liar, karena sudah terbuka yang membuat para perambah mengarahkan perambahan dan penebangan liar ke kawasan hutan lindung.

Karena itu jalan menuju perusahaan dan satu desa yakni Desa Sakura yang dibangun para perambah secara liar di hutan koridor harus ditutup. (Ant/OL-06)

Film Terbaru

Post Terbaru

      Admin Control Panel

      New Post | Settings | Change Layout | Edit HTML | Moderate Comments | Sign Out

      Tag Cloud

      Dukung